Krisis Laut Merah ‘Makan Korban’ Baru: India

SHARE  

Ilustrasi Bendera India. AP/ Foto: Ilustrasi Bendera India. (AP)

Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis di Laut Merah memakan korban baru. Kali ini India.

Inflasi dan pertumbuhan ekonomi India berisiko akibat kenaikan harga minyak karena gangguan di jalur perdagangan global tersebut. Pemerintah menyoroti langsung ini dan menegaskan perlunya diversifikasi jalur perdagangan.

Baca: Hamas Buka Suara Serangan Maut Gedung Konser Moskow, Beri Ini ke Putin

Perlu diketahui sekitar 80% perdagangan barang dagangan India dengan Eropa, termasuk produk-produk utama seperti minyak mentah, suku cadang mobil, bahan kimia, tekstil, melewati jalur Laut Merah. Namun kini perairan itu menjadi tempat serangan rudal dan drone yang dilancarkan militan Houthi dari Yaman.

Houthi melakukan hal tersebut sebagai bentuk protes serangan Israel ke Gaza, Palestina dan dukungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Fakta itu telah memaksa banyak perusahaan pelayaran untuk mengubah rutenya, menjauh dari Terusan Suez ke sekitar ujung selatan Afrika.

Baca: Bajak Laut Somalia ‘Bangkit dari Kubur’, Perdagangan Dunia Warning

“Kombinasi antara biaya pengangkutan yang tinggi, premi asuransi, dan waktu transit yang lama dapat membuat barang impor lebih mahal secara signifikan,” kata Kementerian Keuangan India dalam tinjauan ekonomi bulanannya, dikutip CNBC International, Senin (23/3/2024).

“Pengiriman komoditas pertanian, tekstil, bahan kimia, barang modal, produk kelautan dan minyak bumi ke India mungkin akan terkena dampak akibat gangguan ini, dan mempengaruhi daya saing harga ekspor,” tambahnya.

“Untuk mengatasi tantangan ini secara efektif, mungkin diperlukan diversifikasi rute perdagangan dan pilihan transportasi,” jelasnya lagi.

Perlu diketahui, tahun keuangan India berlangsung dari bulan April hingga Maret. Meskipun sejumlah tantangan terjadi tapi kementerian yakin perekonomian India akan menutup tahun keuangan ini dengan positif.

“Prospek inflasi untuk beberapa bulan mendatang positif, karena peningkatan musim tanam di musim panas kemungkinan akan membantu mengekang harga pangan,” tambah kementerian lagi.

Inflasi ritel India sedikit menurun menjadi 5,09% pada bulan Februari. Namun bank sentral fokus pada penurunan inflasi ke target 4%.

Perkiraan resmi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk tahun fiskal saat ini telah dinaikkan menjadi 7,6% dari 7,3%. Ini menandakan “kekuatan ekonomi India yang bertahan lama”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*